Di penghujung tahun 2015 lalu, Bank Dunia menyajikan sebuah laporan tentang Indonesia bertajuk Indonesia’s Rising Divide yang menyajikan data mengenai ketimpangan ekonomi di Indonesia yang semakin melebar semenjak krisis ekonomi 1998 hingga 2014. Laporan tersebut patut untuk dicermati karena menyajikan sebuah penjabaran yang menarik mengenai hubungan tingkat kemiskinan dan disparitas ekonomi. Disebutkan bahwa jumlah penduduk miskin (dengan jumlah konsumsi di bawah Rp. 300.000 per orang per bulan) mengalami penurunan dari 24 % di tahun 1999 menjadi 11,3 % di tahun 2014. Namun penurunan jumlah penduduk miskin ini malah berbanding terbalik dengan tingkat disparitas (diukur dengan koefisien Gini) yang naik dari 30 poin pada tahun 2000 menjadi 41 poin di tahun 2014.
Data ini memberikan kita beberapa gambaran kasar mengenai kondisi sosial ekonomi di Indonesia. Pertama adalah dengan semakin berkurangnya tingkat kemiskinan di Indonesia (data Bank Dunia bersifat makro dan perlu dibandingkan dengan data BPS misal), menandakan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi memberikan dampak pada berkurangnya tingkat kemiskinan tersebut. Dengan kata lain jumlah kelas menengah menjadi semakin banyak, meskipun posisi mereka belum dikatakan aman dari jerat kemiskinan. Lalu kedua, semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca reformasi justru memberikan keuntungan paling besar kepada golongan masyarakat atas. Hal ini terlihat dari tingkat kesenjangan yang semakin melebar, paling tidak terlihat dari tingkat konsumsi masyarakat: nilai konsumsi 10 % orang-orang paling kaya di Indonesia sama dengan konsumsi 54 % warga termiskin pada tahun 2015 lalu, naik dari tahun 2012 di mana konsumsi 10 % orang paling kaya di Indonesia setara dengan total konsumsi 42 % warga miskin.

Untuk membaca lebih lanjut, silakan klik unduh







Tagged: