“seburuk-buruknya ulama adalah dia yang sering bertandang ke istana, dan sebaik-baiknya umara adalah dia yang meminta pertimbangan ulama dalam menjalankan kekuasaannya.” Ungkapan ini pantas untuk direnungkan karena banyak ulama yang kehilangan jati diri dan kedaulatannya sebagai personifikasi keluhuran nilai agama setelah mereka asik masuk dengan kekuasaan. Menjaga jarak dengan kekuasaan juga akan membuat para ulama terhindari dari olok-olok politik yang kerap mengatakan bahwa kehadirannya diistana kekuasaan sekedar menjadi stempel karet kebijakan penguasa. Dengan adanya jarak yang terjaga maka para Ulama Aceh akan menjelma menjadi reformator atau pembaharu bagi masa depan masyarakat Aceh.

Artikel ini menjelaskan tentang peran ulama semestinya untuk menjadikan Aceh yang lebih beradab.