Penyerangan warga Ahmadiyah ini tidak dapat dianggap sebagai peristiwa kriminal biasa yang di dalamnya kebetulan ada unsur penghasutan, pengrusakan, penganiayaan, atau pengeroyokan. Tragedi Cikeusik merupakan kejahatan serius (serious crimes) menyangkut kebebasan berkeyakinan. Penyerangan terhadap Ahmadiyah sama halnya dengan pelanggaran atas hak asasi manusia yang paling fundamental.

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Serang memvonis sangat rendah 12 orang pelaku penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, yang menyebabkan tiga orang Ahmadiyah meninggal dunia.

Yang menjadi aneh adalah salah seorang dari kelompok ini justru dijadikan terdakwa. Deden Dermawan Sudjana Penasehat Keamanan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Dalam peristiwa naas tersebut ia mengalami luka serius. Pergelangan tangan kanannya hampir putus, kepala atas luka sobek dengan tujuh jahitan. Kaki  kirinya terluka akibat sabetan benda tajam. Lengan atas kiri bagian dalam juga mengalami luka sobek akibat peristiwa Cikeusik itu.

Dijadikannya Deden sebagai tersangka patut diduga atas desakan ormas  dan  partai  politik  yang  menolak  kehadiran  Ahmadiyah.

Artikel ini menceritakan tentang perilaku penegak hukum yang sering sekali menjadikan korban penyerangan kelompok mayoritas intoleran sebagai tersangka karna desakan dari kelompok mayoritas intoleran dan partai politik tertentu