Setiap memasuki bulan September, perbincangan publik di berbagai media massa di Indonesia tergiring dalam perdebatan sejarah politik masa lalu yang menyangkut tragedi kemanusiaan 1965.  Memori mengenai pembunuhan sejumlah petinggi militer Angkatan Darat. Pembantaian massal di berbagai daerah. Kemudian pengasingan ke daerah terpencil dan diskriminasi struktural terhadap sejumlah warga negara. Rentetan kejadian itu ditujukan untuk membasmi ideologi komunis yang dianggap berseberangan dengan pemerintah.

Sudah setengah abad tragedi kemanusiaan tersebut terjadi, namun hingga kini upaya penyelesaiannya belum paripurna dituntaskan. Beragam upaya penyelesaian sudah ditempuh, tetapi tak kunjung dilaksanakan. Di tengah kemandegan, pola kekerasan warisan Orde Baru tersebut tetap terpelihara. Keengganan negara dalam menyelesaikan tragedi kemanusiaan puluhan tahun lalu menciptakan pola yang serupa atas sejumlah kasus pelanggaran HAM dalam empat dasawarsa terakhir. Seperti kasus Timor Timur, Talang Sari, Priok, Mei ’98, Munir, Mesuji dan yang lainnya. Rentetan peristiwa tersebut memberikan benang merah: pelakunya adalah aparat negara yang melakukan kekerasan untuk melindungi stabilitas politik kekuasaan.

Unduh