Penculikan dan semua tindakan teror itu tidak lepas dari semakin marakya perlawanan dari bawah. Akhir-akhir ini mahasiswa tumpah ruah di mana-mana. Mereka menuntut reformasi secara mendasar di segala bidang dan juga menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden yang ketujuh kali.

Maraknya aksi mahasiswa ini sangat membahayakan kekuasaan sebab aksi-aksi ini belum mencapai puncaknya. Baru satu elemen yang melakukan perlawanan secara meluas, yaitu kelas menengah intelektual. Dan pada gilirannya elemen ini akan menyeret elemen yang lain –yang selama ini walaupun belum sesemarak aksi mahasiswa juga sudah turun ke jalan– yaitu elemen buruh, kaum miskin kota, juga sedikit kelas menengah profesional.

Untuk menghadapi ini, Soeharto menggunakan cara represif, Cara ini selalu dia lakukan, baik yang ringan seperti penggebukan para demonstran, penangkapan, pemenjaraan, hingga cara yang berat seperti penculikan, pembunuhan, penyerbuan militer, dan teror.

Peristiwa Penculikan ini dipastikan berlangsung dalam tiga tahap : Menjelang pemilu Mei 1997, dalam waktu dua bulan menjelang sidang MPR bulan Maret, dan ddalam periode tepat menjelang pengunduran diri Soeharto  pada 21 Mei. Pada bulan  Mei sembilan orang yang diculik itu dilepaskan namun mereka bukanlah korban yang diculik dari periode pertama dan ketiga.

Latar belakang para korban penculikan adalah aktivis ,SMID, PRD, PPP dan Mega Bintang.

Artikel ini menjelaskan kronologi penghilangan paksa pada menjelang kejatuhan Orde Baru.