Dalam wacana hukum pidana dunia dewasa ini telah terjadi pergeseran paradigma keadilan dari peradigma keadilan retributif (pembalasan sebagai keadilan) dan keadilan restitutif (ganti rugi sebagai keadilan) ke paradigma baru yang disebut sebagai keadilan restoratif (restorative justice).Paradigma keadilan restoratif berlandaskan pada rekonsiliasi dan pemulihan korban. Hal ini tak lain untuk mencapai suatu keadilan moral dan sosial dalam penegakan hukum. Keadilan jenis ini melibatkan pelaku, korban, keluarga mereka, dan pihak lain yang terkait dalam suatu tindak pidana untuk secara bersama-sama mencari penyelesaian terhadap tindak pidana tersebut. Dalam konteks pemidanaan anak,  menggunakan keadilan restoratif adalah suatu hal yang sangat tepat dalam pemajuan HAM dibandingkan dengan peradigma keadilan retributif.

Pendekatan hukum formalistik yang melulu menuntut pembalasan dan ganti rugi tak melahirkan keadilan substansial bagi korban dan pelaku. Ini karna anak yang terlibat dalam permasalahan pidana secara fisik, psikis, dan pola pikir anak yang belum matang, sehingga diperlukan pemikiran bahwa anak memerlukan perlindungan hukum yang khusus. Sebagai pemilik masa depan, anak harus disiapkan untuk menjalani kehidupan dalam masyarakat beradab yang penuh perdamaian, toleransi, kebebasan, martabat, kebersamaan, dan kesetaraan.