Ada banyak dan berbagai-bagai luka sejarah yang tertinggal sebagai warisan dari sepanjang kekuasaan Orde Baru dan bahkan sampai sekarang di Indonesia. Salah satunya adalah tragedi kemanusiaan tahun 1965. Oleh karna itu ada dua hal penting yang mesti dilakukan untuk kasus tersebut. Yakni penyembuhan masyarakat dari luka parah atau trauma sejarah dan  perukunan kembali masyarakat dari rasa pemusuhan masa lalu yang sengaja di-“meterai”-kan di lubuk-hati dan jantung sejarah bangsa.

Dalam artikel ini penulis mencoba memberikan idenya tentang rekonsiliasi  dengan menggunakan budaya tradisi. Menurut penulis ” recalling history  ” lewat tradisi dan adat setempat, sesungguhnya tidak hanya merupakan bentuk rekonsiliasi. Tapi lebih dari itu, yakni sekaligus merupakan bentuk resistensi dari bawah untuk melawan “hegemoni” pemerintah yang militeristik, melalui simbolisme, tradisi dan adat yang bisa melindungi mereka dari amarah kekuasaan.”