Sebagaimana  telah  menjadi  pemahaman  bersama,  kekuatan  subyektif  gerakan rakyat  mengalami  penurunan  yang  cukup  tajam  semenjak  rejim  Orde  Baru  berhasil ditumbangkan  tahun  1998  yang  lalu.  Kenyataan  ini  tidak  dapat  dilepaskan  dari  kesadaran obyektif  massa  rakyat  yang  masih  cenderung  terilusi  dengan  berbagai  sogokan-sogokan reformasi,  liberalisasi,  demokrasi  prosedural,  otonomi  daerah,  dan  seterusnya,  yang  dijajakan dan  disodorkan  oleh  rejim-rejim  yang  berkuasa  pasca  pemerintahan  Orde  Baru.  Sekalipun demikian,  penurunan  (kuantitas  dan  kualitas)  gerakan  rakyat  tidak  patut  ditimpakan  semata-mata  pada  kesadaran  obyektif  massa  rakyat yang  cenderung  terilusi  oleh  sogokan-sogokan  dari rejim  yang  berkuasa.  Ketidak-siapan  atau  kegagapan  kalangan  organisasi  gerakan  rakyat  di dalam  merespon  dan  memanfaatkan  peluang  dari  perubahan-perubahan  politik  yang  terjadi begitu cepat pasca tumbangnya rejim Orde Baru, pada level tertentu sesungguhnya telah turut pula  memberikan  kontribusi  pada  penurunan  tingkat  progresifitas  gerakan  rakyat.

Artikel ini mencoba merefleksikan diri  politik gerakan sosial  Indonesia paska jatuhnya Soeharto