Hak asasi manusia yang diformulasikan dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia diyakini memiliki sifat universal; dimanapun dan kapan saja dapat diberlakukan. Deklarasi yang diadopsi pada 10 Desember 1948 ini dielaborasi dalam berbagai perjanjian internasional, yang kemudian menjadi standar dasar tentang perilaku terutama antara Negara terhadap warganya. Dua diantara yang paling pokok itu adalah Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik serta Kovenan Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Gabungan ketiganya seringkali disebut sebagai Konstitusi Internasional HAM.

Di satu pihak berbagai pelanggaran hak asasi manusia hingga kini terus terjadi di berbagai Negara dengan segala latar belakang sejarah dan budaya. Belum lama ini media menyingkap kekejaman yang dilakukan tentara AS terhadap warga Irak. Dua pengadilan pidana ad hoc internasional hingga kini masih berkelut terhadap kejahatan kemanusiaan yang terjadi Afrika (Rwanda) dan Eropa (eks Yugoslavia) beberapa tahun lalu. Kita saksikan pula arah memperkuat pemenuhan HAM. India misalnya, sekalipun di sana jutaan orang masih menghadapi resiko pelanggaran HAM secara sistemati – karena dan hanya karena perbedaan kasta yang ditancapkan sejak yang bersangkutan lahir, telah mengeluarkan peraturan untuk mencegah kekerasan terhadap ‘yang tidak boleh disentuh’. Di Indonesia, korban-korban hak asasi manusia terus menyerukan pemulihan hak asasi manusia. Bukan saja atas perbuatan yang langsung mereka alami pada peristiwa berdarah di Tanjung Priok atau pada saat-saat berakhirnya – bergantinya kekuasaan 1965 dan 1998. Terakhir mereka mendesak adanya penyelidikan atas kematian human  rights defender Munir.

Tulisan ini hendak melihat kembali persoalan aplikabilitas HAM melintasi waktu dan tempat atas berbagai prinsip dan norma yang terkandung di dalamnya. Di antaranya anggapan bahwa HAM adalah western constructed dan alasan perbedaan tingkat ekonomi antara Negara maju dengan Negara berkembang/tidak berkembang. Penulis beranggapan bahwa ujian pokok universalitas berlakunya hak asasi manusia terletak pada korban.